Suka Cita dengan Nabi Muhammad SAW
Posted by Unknown on 10:31 PM with No comments
Suka Cita dengan Nabi Muhammad SAW
Oleh: Fahmi
Fardiansyah.
“Sesungguhnya
Allah telah memberi karu-nia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengirim
kepada mereka seorang ra-sul dari kalangan mereka sendiri” (Q.S Ali Imran (3)
ayat 164).
Ada satu
pertanyaan menarik simple namun jarang ditanyakan, yakni manakah yang lebih
utama antara hari raya dan maulidu ar-rasuli shallahualaihiwasalam?
Adalah maulid ar-rasuli
itu lebih mulya dan utama ketimbang hari raya, karena semua perkara agama Islam
terkumpul dalam kelahiran akmalul mukammal sayyidina Muhammad shallahualaihiwasalam.
Andaikan Rasul tidak dilahirkan pada hari senin, Rabiul Awwal, tahun gajah,
pastilah risalah Islam tidak ada di dunia ini. Tidak ada yang namanya hari
raya, tidak ada yang namanya isra' wa mi'raj, tidak ada yang namanya sholat
maktubah, tidak ada yang namanya shiyam pada bulan Ramadlon, tidak ada yang
namanya zakat, nafkah, infaq, dan shodaqah, dan tidak ada pula yang namanya
haji ke baitullah. Sehingga kelahiran Rasul adalah sumber panca-ran wujudnya
risalah agama.
Berkata as-Sayyid
Muhammad Amiin Kutby rahimahullah wa ardlohu:
Wahai malam senin apa yang telah menyentuh-mu,// Yang menjadikanmu
mulya, wangi, lagi berkecukupan (akan kebaikan),// Semua malam-malam yang
terasa indah di dunia itu karena-mu,// Semua bersandar padamu maka engkau adalah
kunci semua kebaikan,// Maka semua ketentuan, hari raya, miraj,//Berasal darimu
yang menakjubkan kami.
Siapakah yang pertama
kali memba-ngun pondasi memperingati lahirnya akramul ar-rasul
shallahualaihiwasalam?
Tidak lain adalah
Rasulullah shallahu-alaihiwasalam sendiri yang memulai memperi-ngati
kelahirannya dengan berpuasa di setiap hari senin. Ketika Rasul
shallahualaihiwasalam ditanya tentang kebiasaan puasanya dihari senin, beliau
menjawab: “di hari itu (senin) aku dilahirkan”.
Lantas, apakah
bersyukur atas kelahiran akramul al-khalq shallahu-alaihiwasalam cukuplah
dengan berpuasa di hari senin pada setiap minggunya?
Tidak, hadits ini tidak
bersifat anjuran melainkan bentuk inisiatif Rasul shallahualaihiwasalam sendiri
untuk melakukan puasa dengan makna Rasul Shallahualaihiwasalam bersyukur dengan
melakukan suatu amal kebaikan. Sehingga sekarang, untuk mensyukuri kelahiran
Nabi Sayyidina Muhammad shallahualaihiwasalam yang dengan kelahirannya menjadi
sumber kebaikan Islam tidak dibatasi dengan berpuasa saja, namun bisa dengan
melakukan keba-jikan-kebajikan agama. Seperti, memberi makan kepada orang fakir
dan miskin, bershodaqah untuk pembangunan masjid dan sekolah, mengingat
perilaku-peri-laku Sayyidina Muhammad shallahualaihiwasalam sewaktu masih
hidup, dan kebajikan-kebajikan lainnya.
Kemudian, kenapa harus
bersyukur dengan kelahiran Nabi Muhammad shallahualaihiwasalam?
Atas apa yang telah
dikabarkan Allah azza wa jall,
“Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika
Dia mengirim kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri” (Q.S Ali
Imran (3) ayat 164).
Dengan karunia inilah
kita bersyukur dan bersuka cita,
“Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya maka dengan hal itu
hendaklah mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik
daripada apa yang mereka kumpulkan”(Q.S Yunus (10) ayat 58).
Allah azza wa jall telah menjadikan Sayyidina Muhammad sebagai
karunia-Nya, dan dengan karunia Allah hendaklah umat Islam kemudian bergembira
dengan dengan cinta kepadanya, rindu bertemu dengannya, memohon kepada Allah
agar mata, telinga, dan mulut mereka diberi oleh Allah perlindungan dari
kemaksiatan agar mata, telinga, dan mulut
tersebut dipersiapkan memandang keindahan wajah Rasul shallahualaihiwasalam,
mendengar suara merdu Rasul shallahualaihiwasalam, dan meminum air sejuk nan
menenangkan dari telaga Rasul shallahualaihiwasalam.
Sungguh indah apa yang
diriwayatkan Bukhori, bahwa Abu Lahab diringankan siksanya di setiap hari senin
dengan keluarnya air dari jari-jarinya, karena ia bergembira akan lahirnya Nabi
Muhammad shallahualaihiwasalam dulu, hingga ia membebaskan budaknya Tsuwaibah
yang memberikan kabar gembira atas lahirnya keponakan laki-laki dari adiknya
Abdullah.
Categories: BULETIN JUM'AT, LP3AH

0 comments:
Post a Comment