JL. Candi 3, No. 454, 65146, Malang-Indonesia

Monday, September 10, 2018

Berbagai Penyebab Mati Su'ul Khatimah


Berbagai Penyebab Mati Su'ul Khatimah
KH. M. Baidhowi Muslich



Wasiat paling penting di dalam Al qur’an adalah perintah Allah SWT agar orang-orang mukminin tetap bertaqwa kepada Allah SWT dan tidak mati kecuali mati dalam islam. Dalam firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan islam” (Ali Imron:102)
            Demikian pula Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ya’qub AS juga berwasiat kepada anak-anaknya:
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama islam””(Al Baqarah: 132)
            Kedua ayat Al qur’an merupakan peringatan keras bagi setiap orang beriman agar jangan mati su’ul khatimah.
            Mati itu merupakan akhir kehidupan dunia dan awal kehidupan akhirat. Tidak ada lagi waktu untuk bertaubat dan tidak ada lagi waktu untuk beramal. Jadi sangat-sangat penting untuk diperhati-kan.
            Orang yang matinya su'ul khati-mah –na'udzu billah min dzalik- sudah tidak bisa diharapkan keselamatannya untuk selama-lamanya.
            Kemudian apakah penyebabnya orang mukmin mati su'sul khatimah? Secara umum Alquran menjelaskan bahwa perbuatan dosa/kejahatan itu akibatnya adalah siksa/adzab yang lebih buruk.
            Dalam surat Ar-rum ayat 10 Allah SWT berfirman:
“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya” (Ar-rum: 10)
            Jadi ayat ini menegaskan bahwa perbuatan jelek itu akibatnya juga jelek. Hal ini dibuktikan dengan sejarah peristiwa-peristiwa pada zaman dahulu, bahkan mulai zaman Rasulullah SAW. Seperti ceritanya 'Alqomah yang menya-kiti orang tuanya, tsa'labah yang tidak membayar zakat, juga seseorang pejuang dikira mati dalam keadaan syahid. Dalam perang, ternyata Rasulullah SAW mengatakan bahwa orang itu di neraka gara-gara mencuri harta ghanimah.
            Kemudian secara rinci diantaranya adalah: tidak membayar zakat bagi orang yang telah wajib membayar zakat, sebab dinilai orang itu sama dengan munafiq.
            Allah berfirman dalan surat Al-munafiqun ayat 10:
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada seseorang diantara kamu; lalu berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa engkau tidak menggunakan (kematian)ku sampai waktu dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan terrmasuk orang-orang yang shaleh?” (Al-Muanfiqun: 10)
            Dalam sebuah hadist riwayat imam At-Tirmidzi dan ibnu jarir dari ibnu abbas  RA bahwa Rasulullah bersabda:
“Barang punya harta yang cukup untuk pergi haji atau harta itu wajib dikeluarkan zakatnya tetapi tidak melaksanakannya maka ketika mati dia meminta kembali” (HR. Tirmidzi)
            Padahal Allah SWT tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang waktu kematianya. Pada ayat:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menggunakan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah maha mengenal apa yang kamu kerjakan” (Al-Munafiqun: 11)
            Penyebab lain daripada mati su’ul khatimah menurut Syahid Abdullah Al-Haddad dalam nasihat-nasihatnya yaitu:
1.      Menyia-nyiakan shalat lima waktu
2.      Suka mencela orang lain
3.      Menupu dan tidak jujur dalam berkerja
4.      Mengingkari para wali Allah
5.      Melakukan bid’ah dholalah seperti aliran-aliran sesat
6.      Ragu-ragu kepada Allah, Rasul-Nya dan Hari kiamat
7.      Dan dosa-dosa lain yang membahayakan

Allah dan Berpasrah Diri pada-Nya


Allah dan Berpasrah Diri pada-Nya   
Oleh: Fahmi Fardiansyah.


Menarik jika   mernahami  firman Allah di surat Ali Imron (3) ayat26-27:
"Katakanlah: Wahai Allah rajanya raja berikanlah kepada  orang yang Engkau kehendaki  dan  cabutlah kerojaan dari orang yang  Engkau kehendaki, Engkau mulyakan  orang  yang Engkau  kehendaki,   Engkau   menghina  orang yang Engkau  kehendaki,  dengan  tangan-Mu ado  kebaikan,   sesungguhnya  Engkau kepada  segala sesuatu  itu  berkuasa ", (26)   "Engkau  masukkan   malam   ke dalam siang dun memasukkan siang ke dalam malam, dan mengeluarkan hidup dari mati don  mengeluarkan mati dari hidup,   dan  memberikan  rizki  kepada yang Engkau  kehendaki  tanpa  batas ". (27).
Diriwayatkan oleh Ibnu Aby Hatimdari Qatadah berkata, babwa Rasulullah SAW memohon  kepada Allah SWT agar menjadikan  kerajaan Roma dan Persia, maka turunlah ayat ini.
Pada saat ini  manusia mengupayakan dirinya  untuk  bisa menguasai  segala yang  ia  bisa kuasai   untuk  menenangkan kehidupan   dun ianya.   Menggunakan ilmunya untuk mencapai  karier intelektual yang   tinggi,   menggunakan   ekonomi sebagai   sarana   menguasai   pasar   internasional, menguasai politik unruk menjadi orang  yang  lidahnya  memiliki  kekuatan mernerintahkan  orang lain,  menggunakan jabatan  untuk  menjadi  tangan  yang  berkuasa atas bawahannya, bahkan menggunakan ilmu agama,  mengatas namakan agama,  berdalil  al-Qur’an dan Sunnah untuk menarik golongan yang membela dirinya,  menyanjung dirinya,  dan menjadi tentaranya. Hingga  manusia lupa Allah adalah rajanya raja, rneski manusia  bisa menguasai dunia, manusia tidak bisa mengusai pergantian  siaug  dan  malam,  hidup  dan mati. Hingga Allah mengingatkan kekuasaan  yang  ada ditangan  manusia  adalah atas kehendak Allah. Hanya Allah yang berkuasa memberikan kekuasaan kepada yang dikehendakinya dan  mencabut kekuasaan itu,  hanya Allah yang berkuasa memulyakan  manusia  dan menghinakannya. Manusia lupa akan semua hal itu.
Allah  mengingatkan,   usaha  yang kalian mati-matian bela tidak bisa berhasil tanpa adanya ke"iya"an dari-Ku, hitungan yang  kalian perhirungkan  dalam  setahun kedepan, Lima tahun kedepan, sepuluh tahun kedepan tidak bisa tercapai tanpa ada ijin  dari  Allah,  semua  atas  kuasa Allah, seperti dalamAl-Quran:
"Maha   Kuasa   berbuat  apa  yang dikehendaki" (QS al-Buruj: 16)
Indahnya manusia  ingin memikirkan ini dan menghadirkan Allah dalam segala perhitungan  sehari-harinya,  indahlah apa yang dikatakan Nabi Daud As kepada anaknya Nabi Sulaiman As, "bahwa  ketaqwaan  seseorang  dirunjukkan dengan   3   hal:   bagusnya  tawakkul  (berpasrab  diri  kepada Allah) didalam apa yang tidak diperolebnya, dan bagusnya ridlo didalam  apa yang  telah diperolebnya, dan bagusnya kesabaran didalam apa yang telah terlewatkan".
Apa  yang  diartikan  Indah  oleh  as-Sayyid Muhammad  bin Alawi bin  Abbas  al-Maliki  aJ-Makky  tentang  tawakkul,  tawakkul adalah keyakinan hati bahwasanya perkara-perkara semuanya berada ditangan Allah  wujud  dan tidak wujudnya, semua  perkara tidak  bisa memberi bahaya, bennanfaat, memberi manfaat, pencegah selain Allah, kemudian tenangnya hati dan diamnya  kepada janji Allah dan jaminan-Nya, hingga  gentar dan  guncang ketika faktanya berbalik dengan keinginan, semua kejadian dikembalikan kepada Allah.
Berusaha tetap  tapi  perlu  diingat  kuasa  Allah  diatas  usaha manusia, usaha tetap selama  usaha sesuai tuntunan Allah, usaha tetap selama  untuk jayanya  agama Allah,  usaha  tetap  selama  tidak menyakiti hati rasulullah shalallahualaihiwasalam, uasaha tetap dilakukan selama untuk mewujudkan kemaslahatan kaum  muslimin, hanyalah Allah yang  menghendaki adanya semua  itu untuk mengetahui mana  diantara  manusia  ini yang  bagus responnya akan ketentuanAUah, dalam ayat:
"Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menjadi cobaan dalam mengetahui mana diantara (hamba Allah  ini) lebih bagus amalnya (respon baik akan ketentuanAllah). "(Q.S al-Mulk: 2)
Nabi  bersabda:   "Jibril mendatangiku, dan berkata:  "wahai Muhammad,  hiduplah sesukamu  maka sesungguhnya kamu adalah mayyit (akan mati),  dan  cintailah apapun yang engkau  kehendaki maka sesungguhnya kamu akan berpisah dengan itu, dan berbuatlah apapun  yang kamu  kehendaki   maka  sesungguhnya kamu  dibalas dengan  hal  itu,  dan  ketahuilah   sesungguhnya  mulyanya   seorang mukmin  ketika  dia  menegakkan sholat  malam,  dan  keagungan seorang  mukmin ketika  merasa  cukup  diantara  manusia." Diriwayatkan Baihaqi dari Jabir. (HR. Baihaqi dari Jabir)


MUSIBAH SEBAGAI PERINGATAN ALLAH


MUSIBAH SEBAGAI PERINGATAN ALLAH
KH. M. Baidhowi Muslich


Kita umat islam dan bangsa indone-sia umumnya tengah diperingatkan oleh Allah SWT dengan datangnya musibah yang silih berganti. Mulai dari musibah tsunami, gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, kekeringan, kebakaran, banjir lumpur panas,, kecelakaan, berbagai macam penyakit. Semua itu memakan korban yang tidak sedikit: baik nyawa maupun harta benda.
                Berbagai musibah tersebut mengi-ngatkan kita kepada sejarah umat-umat terdahulu yang diabadikan dalam kitab suci Alquran :
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (al-ankabut: 40)
                Mereka itu disiksa oleh Allah SWT sebab dosanya:
1.       Kaumnya nabi luth dosanya : homoseksual.
2.       Ashabul qoryah dirubah wajahnya menjadi kera sebab melanggar aturan hari mulya
3.       Kaumnya nabi sholih diadzab sebab tidak menerima kebenaran
4.       Qarun dan teman-temannya ditengge-lamkan kedalam bumi sebab menentang dan menghina nabi musa AS
5.       Kaumnya nabi syu'aib disiksa sebab curang dalam timbangan dan takaran.
6.       Kaumnya nabi nuh ditenggelamkan dengan banjir tsunami pertama sebab menolak kebenaranm nabi Nuh.
7.       Fir'aun dan segenap pasukannya tenggelam ke laut merah sebab fir'aun melawan nabi Musa.
Demikianlah sepanjang riwayat dalam kitab suci Alquran bahwa : umat-umat terdahulu itu diadzab sebab dosa-dosa mereka.
                Timbul suatu pertanyaan: apakah berbagai bencana yang melanda dimana-mana sekarang ini adalah adzab yang dise-babkan oleh dosa umat manusia ataukah sebagai bala'/musibah-musibah sebagai ujian kesabaran bagi orang-orang yang beriman? Tentu hanyalah Allah yang paling tahu jawabannya dan Allah ta'ala tidak bisa ditanya, melainkan umat manusia yang akan diusut dalam ayat berikut:
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai” (Al-Anbiya': 23)
                Oleh karenanya: sebaiknya kita harus mawas diri. Bukankah kita ini banyak dosa-dosa terhadap Allah: perintah-Nya banyak yang ditinggalkan dan larangan-larangan-Nya banyak yang dilanggar. Kemudian seharusnya bertaubat kepada Allah dengan menta'ati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
                Namun bisa juga segala bencana itu merupakan ujian iman, maka kita wajib sabar dan ridho atas apapun yang menjadi ketetapan Allah SWT.
                Bahwa Rosulullah SAW bersabda:
“Ketika Allah mencintai suatu kaum/bangsa maka Allah menguji mereka, maka jika mereka ridho terhadap ujian Allah maka Allah ridho terhadap mereka. Dan apabila mereka marah-marah maka Allah juga marah” (HR. Tirmidzi).
                Satu lagi yang harus menjadi perha-tian kita yaitu masalah kemiskinan, mengapa sulit diatasi? Bahkan semakin merajalela dan menimbulkan bahaya bagi bangsa yang telah merdeka puluhan tahun lamanya. Jawabannya bahwa diantara penyebab itu adalah belum terwujudnya pemerataan dalam menikmati pendapatan sebagai rizki dari Allah SWT sehingga semakin nampak bahwa: yang kaya semakin kaya menumpuk dunia harta sedangkan yang miskin kurang diperhatikan. Yang kaya tidak membayar zakat sedang yang miskin banyak yang nekat.
                Rosulullah SAW Bersabda:
“Orang-orang miskin itu tidak akan kelaparan atau telanjang kecuali disebabkan perilaku orang-orang kaya. Ketauhilah bahwa Allah SWT akan meng-Hisab mereka dengan hisab yang rumit kemudian menyiksa mereka dengan siksa yang pedih”. (HR. Thobroni).

Hiasan Dunia


Hiasan Dunia
Oleh: Fahmi Fardiansyah


            “dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah dan ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Q.S Ali Imran (3) ayat 14).
            Secara pandangan umum ayat ini terlihat mengatakan bahwa dunia ini penuh akan kesenangan yang mengenakkan pandangan, menyejukkan hati, dan terasa lezat jika dinikmati. Sehingga mendorong manusia untuk melupakan akhirat serta surga sebagai sebaik-baik tempat kembali. Itu jika dipandang dengan mafhum mukhalafah. Berbeda jika dipandang dengan mafhum muwafaqah. Bahwa Allah telah memberikan dua anugrah kepada manusia, yaitu manhaj hayah dan wasail hayah.
            “tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya  lahir dan batin.” (Q.S Luqman (31) ayat 20).
            (Nikmat-Nya lahir dan bathin) yakni manhaj hayah berupa pedoman hidup berupa al-Quran dan as-Sunnah, sedangkan wasail hayah adalah segala sarana prasarana kehidupan yang diciptakan Allah untuk kepentingan hidup manusia secara keseluruhan. Lantas apa saja sarana prasarana tersebut? Tidak lain dan tidak bukan apa yang telah Allah terangkan dalam (wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah dan ladang.)
            Lantas apa yang diharapkan oleh Allah dalam menghadapi dunia ini? Adalah apa yang difirmankan Allah,
            “supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (Q.S al-Hadid (57) ayat 23).
            Ketika dunia ada di tangan kita, adalah harus saddar apa yang ada ditangan hanyalah sementara dan bersifat titipan dan memiliki kewajiban untuk mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya.  
            dari Ibnu Umar dari Ibnu Mas'ud dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam beliau bersabda: "Kaki Anak Adam tidaklah bergeser pada hari Kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal; tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang apa yang telah dia lakukan dengan ilmunya."
            Sehingga Allah ingin mengatakan “apa yang telah Aku hamparkan kepadamu itu maka manfaatkan dengan menyebut nama-Ku, kemudia aku titipkan semua itu untuk kamu kelola dengan sebaik mungkin untuk mewujudkan kemakmuran diantara kamu, jangan kamu tinggalkan dunia hanya karena beralasan zuhud, tidak seperti itu yang disebut zuhud. Zuhud adalah mengambil dunia atas apa yang telah Aku bagikan diantara kamu untuk kamu kelola dan kamu manfaatkan untuk menciptakan kemakmuran sesuai pedoman yang telah Aku turunkan sehingga terwujudlah keseimbangan dunia dan akhirat. Jangan tinggalkan dunia, karena kamu akan bertanggung jawab akan apa yang ditangan kamu sekarang ini, jangan tinggalkan dunia dengannya kamu bisa merasakan ketenangan dalam ibadah dimasjid-masjid yang kamu bangun dengan megahnya, jangan tinggalkan dunia dengannya kamu menciptakan sumber ilmu pengetahuan, pondok-pondok pesantren, sekolah-sekolah, dan pernguruan tinggi, jangan tinggalkan dunia dengannya kamu membangun rumah sakit yang menjadi rujukan umat Islam untuk berobat, jangan tinggalkan dunia dengannya kamu menyantuni anak yatim, memberi makan orang miskin, menjamin kehidupan para janda, jangan tinggalkan dunia dengannya Aku melipat gandakan pahala bagimu. “
            “perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa denga sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki . dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S al-Baqarah (2) ayat 261).
            “hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang zalim.” (Q.S al-Baqarah (2) ayat 254).
            Ya Allah cukupkanlah dengan yang halal dari pada yang haram, dengan ta’at pada-Mu dari pada maksiat pada-Mu, dengan anugrah dari Mu bukan dari selain-Mu.
           

Suka Cita dengan Nabi Muhammad SAW


Suka Cita dengan Nabi Muhammad SAW
Oleh: Fahmi Fardiansyah.


“Sesungguhnya Allah telah memberi karu-nia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengirim kepada mereka seorang ra-sul dari kalangan mereka sendiri” (Q.S Ali Imran (3) ayat 164).
            Ada satu pertanyaan menarik simple namun jarang ditanyakan, yakni manakah yang lebih utama antara hari raya dan maulidu ar-rasuli shallahualaihiwasalam?
            Adalah maulid ar-rasuli itu lebih mulya dan utama ketimbang hari raya, karena semua perkara agama Islam terkumpul dalam kelahiran akmalul mukammal sayyidina Muhammad shallahualaihiwasalam. Andaikan Rasul tidak dilahirkan pada hari senin, Rabiul Awwal, tahun gajah, pastilah risalah Islam tidak ada di dunia ini. Tidak ada yang namanya hari raya, tidak ada yang namanya isra' wa mi'raj, tidak ada yang namanya sholat maktubah, tidak ada yang namanya shiyam pada bulan Ramadlon, tidak ada yang namanya zakat, nafkah, infaq, dan shodaqah, dan tidak ada pula yang namanya haji ke baitullah. Sehingga kelahiran Rasul adalah sumber panca-ran wujudnya risalah agama.
            Berkata as-Sayyid Muhammad Amiin Kutby rahimahullah wa ardlohu:
Wahai malam senin apa yang telah menyentuh-mu,// Yang menjadikanmu mulya, wangi, lagi berkecukupan (akan kebaikan),// Semua malam-malam yang terasa indah di dunia itu karena-mu,// Semua bersandar padamu maka engkau adalah kunci semua kebaikan,// Maka semua ketentuan, hari raya, miraj,//Berasal darimu yang menakjubkan kami.
            Siapakah yang pertama kali memba-ngun pondasi memperingati lahirnya akramul ar-rasul shallahualaihiwasalam?
            Tidak lain adalah Rasulullah shallahu-alaihiwasalam sendiri yang memulai memperi-ngati kelahirannya dengan berpuasa di setiap hari senin. Ketika Rasul shallahualaihiwasalam ditanya tentang kebiasaan puasanya dihari senin, beliau menjawab: “di hari itu (senin) aku dilahirkan”. 
            Lantas, apakah bersyukur atas kelahiran akramul al-khalq shallahu-alaihiwasalam cukuplah dengan berpuasa di hari senin pada setiap minggunya?
            Tidak, hadits ini tidak bersifat anjuran melainkan bentuk inisiatif Rasul shallahualaihiwasalam sendiri untuk melakukan puasa dengan makna Rasul Shallahualaihiwasalam bersyukur dengan melakukan suatu amal kebaikan. Sehingga sekarang, untuk mensyukuri kelahiran Nabi Sayyidina Muhammad shallahualaihiwasalam yang dengan kelahirannya menjadi sumber kebaikan Islam tidak dibatasi dengan berpuasa saja, namun bisa dengan melakukan keba-jikan-kebajikan agama. Seperti, memberi makan kepada orang fakir dan miskin, bershodaqah untuk pembangunan masjid dan sekolah, mengingat perilaku-peri-laku Sayyidina Muhammad shallahualaihiwasalam sewaktu masih hidup, dan kebajikan-kebajikan lainnya.
            Kemudian, kenapa harus bersyukur dengan kelahiran Nabi Muhammad shallahualaihiwasalam?
            Atas apa yang telah dikabarkan Allah azza wa jall,
“Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengirim kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri” (Q.S Ali Imran (3) ayat 164).
            Dengan karunia inilah kita bersyukur dan bersuka cita,
“Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya maka dengan hal itu hendaklah mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan”(Q.S Yunus (10) ayat 58).
Allah azza wa jall telah menjadikan Sayyidina Muhammad sebagai karunia-Nya, dan dengan karunia Allah hendaklah umat Islam kemudian bergembira dengan dengan cinta kepadanya, rindu bertemu dengannya, memohon kepada Allah agar mata, telinga, dan mulut mereka diberi oleh Allah perlindungan dari kemaksiatan agar mata, telinga, dan mulut  tersebut dipersiapkan memandang keindahan wajah Rasul shallahualaihiwasalam, mendengar suara merdu Rasul shallahualaihiwasalam, dan meminum air sejuk nan menenangkan dari telaga Rasul shallahualaihiwasalam. 
            Sungguh indah apa yang diriwayatkan Bukhori, bahwa Abu Lahab diringankan siksanya di setiap hari senin dengan keluarnya air dari jari-jarinya, karena ia bergembira akan lahirnya Nabi Muhammad shallahualaihiwasalam dulu, hingga ia membebaskan budaknya Tsuwaibah yang memberikan kabar gembira atas lahirnya keponakan laki-laki dari adiknya Abdullah.

Islam dan Pembangunan


Islam dan Pembangunan
Oleh: KH. Muhammad Baidlowi Mushlich.


            Peristiwa-peristiwa yang tejadi dalam sejarah sering memberikan pelajaran yang sa-ngat berharga buat kita semua. Suatu contoh yaitu peristiwa yang dulu pernah menimpa kera-jaan Sabaiyah pada tahun 120 sebelum masehi. Peristiwa ini dimuat dalam Al-Qur'an surat Saba' ayat 15 s/d 17
Artinya: Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka Yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Ne-gerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun" {15}. Tetapi mereka berpa-ling, Maka Kami datangkan kepada mere-ka banjir yang besar [banjir besar yang disebabkan runtuhnya bendu-ngan Ma'rib] dan Kami ganti kedua kebun mereka de-ngan dua kebun yang di-tumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr [Pohon Atsl ialah sejenis pohon cemara pohon Sidr ialah sejenis pohon bidara] {16}. Demi-kianlah Kami memberi Balasan kepada mereka karena ke-kafiran mereka. dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demi-kian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir{17}
Kerajaan Sabaiyah terletak di daerah Yaman yang sekarang, didirikan oleh rajanya yang pertama bernama Saba', dengan Ibu Kota nya bernama Ma'rib. Raja Saba' dengan duku-ngan rakyatnya yang besar, giat membangun seluruh wilayah kerajaan. Suatu proyek raksasa yang termasyhur berhasil dibangun, yaitu pro-yek bendungan air yang bernama “Saddu Ma'rib”. Bendungan ini dapat menampung air hujan dimusim panas yang turun 3 bulan dalam setiap tahun. Air dari waduk Saddu Ma'rib ini kemudian dialirkan kebawah melalui kamal-kamal untuk mengairi daerah pertanian seluruh wilayah negeri Sabaiyah.
            Keberhasilan proyek Saddu Ma'rib ini membawa negeri Sabaiyah ke tingkat kemak-muran yang sangat tinggi. Demikian makmur-nya, sehingga sempat pula mereka membangun dua buah taman bergantung yang indah jelita, yang merupakan karya besar yang sangat me-nakjubkan seperti Piramida di Mesir, Menara Eifel di Perancis, dsb. Kemak-muran negeri Sabaiyah ini digambarkan dalam Al-Qur'an sebagai suatu:
Arab (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur)
“Negeri yang makmur mendapat rohmat dari Allah Yang Maha Pengampun”
            Tetapi sayang, kemakmuran negeri Sabaiyah ini tidak berlangsung lama, ternyata kemakmuran yang mereka peroleh itu tidak membawa syukur mereka kepada Tuhan yang memberi Rohmat, tetapi malah sebaliknya Akhirnya Allah menghancurkan negeri Sabaiyah. Bendungan raksasa Saddu Ma'rib runtuh dan banjir bandang yang ditimbulkannya menenggelamkan seluruh wilayah negeri Sabaiyah. Kerajaan Sabaiyah porak poranda, sama-rata dengan tanah, dan hancur untuk selama-lamanya. Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur'an:
Artinya: Tetapi mereka berpaling, Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar [banjir besar yang disebabkan runtuhnya bendungan Ma'rib] dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr [Pohon Atsl ialah sejenis pohon cemara pohon Sidr ialah sejenis pohon bidara] {16}. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. dan Kami tidak menja-tuhkan azab (yang demikian itu), melain-kan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir{17}.
            Sayang sekali, pembangunan yang di-gerakkan di negeri Sabaiyah tersebut, hanya me-nyangkut segi pembangunan fisik-materil, se-perti: bendungan raksasa, taman bergantung, penghijauan, dan pembangunan sektor pertani-an. Sedangkan pembangunan dalam bidang mental-spiritual (agama) diabaikan. Tentu saja pembangunan yang demikian itu hanya dapat menghasilkan kemegahan materi yang menjadi kebutuhan lahiriah manusia, sedang jiwa manu-sia itu sendiri kerdil dan gersang. Akhirnya faktor pembangunan manu sia yang diabaikan itulah yang menjadi sebab hancurnya semua hasil pembangunan yang telah dikejar dengan susah payah.
            Dari peristiwa sejarah ini kita harus bisa mengambil suatu pelajaran yang sangat penting bagi kehidupan di dunia ini. Itulah se-babnya peristiwa tersebut diabadikan dalam Al-Qur'an, maksudnya adalah menjadi peringa-tan agar hal serupa tidak terulang kembali.
            Namun sayangnya seringkali ummat manusia dimana-mana banyak yang melupakan sejarah, sehingga nampak sekali berbagai keja-dian alam, musibah, dan bencana yang melanda di berbagai kawasan dan belahan dunia ini ada-lah merupakan peringatan Tuhan. Maka, selaku ummat terbaik yaitu ummatnya Nabi Muhammad SAW, tidak henti-henti dan tidak boleh berhenti melakukan Amar Ma'ruf Nahi Munkar (menyeru dan mengajak kepada yang baik serta mencegah perbuatan mungkar). Begitulah perintah Allah SWT:
Artinya: Kamu adalah umat yang terba-ik yang dilahirkan untuk manusia, me-nyuruh kepada yang ma'ruf, dan mence-gah dari yang munkar, dan beriman ke-pada Allah. Sekiranya ahli kitab ber-iman, tentulah itu lebih baik bagi mere-ka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mere-ka adalah orang-orang yang fasik.
            Pada saat sekarang ini, mungkin zaman hampir berakhir,begitu berat tantangan yang kita hadapi, sebab semakin banyaknya ummat manu-sia yang lupa kepada Allah SWT. Semakin ba-nyak orang yang tidak iman lagi kepada akhirat, semakin banyak orang yang tidak takut siksa neraka, sehingga apa yang mereka lakukan?
            Mereka tidak lagi mengindahkan perin-tah Allah, tidak mengaji, sholat, puasa, beramal, walhasil semua kebaikan mereka tinggalkan. Sebaliknya, mereka banyak yang nekat melang-gar larangan-larangan Allah, mencuri, judi, mi-num minuman keras, dan lain-lain. Semua itu telah menjadi peristiwa harian yang tidak aneh lagi di dengar diteli-nga, hasil penelitian tera-khir menunjukkan bahwa di Indonesia sekarang ini ada sekitar 4 juta orang menjadi pecandu narkoba, ironis-nya sebagian diantaranya adalah para pemuda dan mahasiswa. Setiap harinya ter-hitung ada 4 orang yang meninggal dunia sebab mabuk karena narkoba. Belum lagi yang terus mene-rus berbuat maksiat dan para pendukung-nya: pornografi dan pornoaksi yang mudah un-tuk diakses dan membuka lebar-lebar auratnya tanpa rasa malu bagaikan hewan, dansa-dansa ala barat yang kafir jauh dari nilai moral keaga-maan. Ironisnya, terkadang ada yang berpakaian islami, pakai sorban dan ada pula yang berjilbab  Pada akhirnya kita menjadi heran, apakah benar mereka itu muslim dan muslimat? Ataukah orang-orang kafir yang pura-pura menjadi mus-lim atau muslimat? Bagaikan “musang berbulu ayam”.           
            Oleh karenanya, marilah kita waspada terhadap munafiqin yang dikuasai oleh setan-setan. Kita selamatkan diri kita dan keluarga kita ma-sing-masing dari siksa api neraka. Begitulah se-ruan Allah SWT dalam kitab sucinya Al-Qur'an:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak men-durhakai Allah terhadap apa yang dipe-rintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
            Demikianlah, semoga kita dan keluarga kita masing-masing selamat. Amin-amin Yaa Robbal Alamin.
           

Segitiga Karakter Individu


Segitiga Karakter Individu
Oleh: Fahmi Fardiansyah.


            Pada surat Al-Fatihah ayat terakhir banyak ditafsiri oleh ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan an'amta alaihim adalah para Nabi-Nabi, para Mushoddiq (yang kuat tau-hidnya), para Syahid, dan para orang-orang Sholih. Dan yang dimaksud almaghdlubi adalah orang-orang Yahudi, serta yang dimak-sud dengan dlollin adalah orang-orang Nashrani.
            Namun, pemahaman yang lebih men-dalam dari ayat ini adalah kembali pada diri masing-masing. Dikarenakan setiap individu memiliki potensi untuk menjadi ketiga karak-ter tersebut. Terkadang manusia bisa menjadi an'amta alaihim, terkadang almaghdlubi, terkadang pula menjadi dlollin.
            Sehingga pada ayat ini dipahami manusia memiliki karakteristik pada dirinya yaitu, sifat yang dipuji oleh Allah, sifat yang dibenci oleh Allah, dan sifat menyesatkan dirinya sendiri. Dengan ketiga sifat ini manu-sia membentuk segitiga karakter yang terka-dang pada satu sisi berada pada satu karakter dan berakhir dengan karakter yang lain.
            Pada saat manusia berada dikarakter terpuji, manusia akan lebih mulia daripada Malaikat dan makhluk Allah lainnya.
“dan Kami memulyakan mereka (manusia) ketimbang kabanyakan dari apa yang telah kami ciptakan dengan keutamaan yang lebih” (Q.S al-Isra':70)
            Dimulyakan manusia sebagai makh-luk selain malaikat dengan keutamaan mele-bihi mereka dengan diberikannya akal, keku atan, dan cara mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang bagus dan mana yang jelek.
            Akan tetapi, pada satu sisi manusia juga berada dikarakter yang dibenci oleh Allah. Dengan beraninya mereka menyekutukan Allah dengan makhluk lain, mengingkari utusan Allah, melakukan perbuatan yang merugikan dirinya dan orang lain, berbuat sombong, dusta, dendam, adu domba, fitnah, riya', mengurangi takaran dalam transaksi, menipu, mencuri, membunuh, memperkosa, bermain riba, menyuap, menjual harga diri manusia lainnya, menindas, merebut negara-negara kecil hanya untuk melampiaskan nafsu belaka dan merebut kekayaan negara kecil tersebut, eksploitasi besar-besaran, merusak alam, dan perbuatan keji lainnya. Itu disebab-kan oleh karakter yang dimiliki manusia itu sendiri.
“maka, berkelilinglah kesepenjuru bumi dan perhatikan bagaimana (suatu bencana, itu) ada dan mengenai orang-orang dusta (bersifat yang dibenci oleh Allah).” (Q.S Ali Imran:137)
            Namun, manusia juga terkadang bersifat menyesatkan dirinya sendiri dengan mengangkat makhluk Allah sebagai pelin-dungnya, berkeyakinan dengan ciptaan Allah-lah suatu bahaya tersingkap tidak karena Allah, kenikmatan dunia yang dimiliki itu karena tetesan keringatnya bukan kerena Allah, perusahaan yang dikembangkan adalah hasil kerja keras bukan karena kuasa Allah, perdaga ngan yang sukses karena perhitungan yang tepat bukan karena ridlo Allah, kepintaran yang dimiliki karena uasaha yang keras dalam belajar bukan karena wahyu Allah, pangkat yang dimiliki adalah miliknya bukan titipan Allah, dapat menyembuhkan orang sakit adalah karena belajarnya bertahun-tahun tentang pengobatan bukan karena izin Allah.
            Itu semua dikarenakan mereka melampaui batas, tidak ingin mengakui kuasa Allah, malah mengakui dirinya sendiri. Hanya ketika manusia terhimpit masalah yang sulit dihilangkan, tertimpa bahaya, mengalami inflasi, jatuh miskin, bangkrut, banyak hutang, bodoh, dan kurang segalanya baru mau mengakui akan kuasa Allah dalam segala hal.
            Oleh karenanya, hendaklah kita menyadari akan karakteristik diri kita masing-masing apakah saat ini kita bersifat an'amta alaihim atau almaghdub, atau dlollin?, jika masih bersifat an'amta alaihim syukur, lantas apakah satu jam kedepan kita masih bersifat seperti itu atau sudah berganti?, apakah esok hari kita masih bersifat seperti itu?, apakah dalam hidup kita lebih banyak bersifat an'amta alaihim atau malah kebalikannya?, hanya diri sendiri dan Allah yang menge-tahuinya. Berhati-hati adalah kunci dalam mengola karakter diri.

Maulid Nabi Muhammad Saw


Maulid Nabi Muhammad Saw
KH. M. Baidhowi Muslich


            Perlu diketahui bahwa, salah satu dari pada perintah Allah yaitu cepat-cepat menuju kebahagiaan, memelihara ibadah dan mudawwamah (terus-menerus) dalam taat kepada Allah. sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur'an al-karim:
“Dan bersegeralah kamu mencari ampu-nan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Imran:133)
            Sebagaimana kita yakini kebena-rannya bahwa junjungan kita nabi besar Muhammad saw adalah seorang yang dipi-lih Allah sebagai nabi dan rasulnya yang terakhir. sebagaimana firman Allah:
“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Ahzab:40)
            Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang Memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Menghidupkan dan Memati-kan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.” (Al-A’raaf:158)
            Setelah nabi Muhammad saw Allah tidak menurunkan akan mengutus lagi se-orang nabi lain yang membawa syariat baru. itu artinya syariat yang dibawa oleh nabi kita ini berlaku sepanjang zaman sam-pai hari kiamat nanti.
            kita yakini pula bahwa nabi Muha-mmad saw diutus untuk semua umat  manu-sia, bukan hanya untuk bangsa arab. Allah swt menegaskan dalam Al-Qur'an:
“Katakanlah, “Perlihatkanlah kepadaku sembahan-sembahan yang kamu hubung-kan dengan Dia sebagai sekutu-sekutu (-Nya), tidak mungkin! Sebenarnya Dia-lah Allah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”(As-Saba’:28)
            Dengan demikian berarti bahwa sebenarnya syariat islam ini dimaksudkan untuk semua umat manusia,tanpa mengenal batas-batas waktu dan tempat sampai akhir jaman. adapun maksud utama dari pada islam ini di syariatkan kepada manusia, tidak lain adalah untuk kepentingan umat manusia itu sendiri, agar mendapatkan kebahagian hidup yang abadi mulai dari hidup di dunia ini sampai di akhirat nanti.
            Oleh karena itu perjuangan nabi Muhammad saw dalam menyebarkan benih-benih hidayah islam kepada umat manusia ini, harus dilanjutkan dan di lestarikan oleh umatnya. adapun hal-hal yang harus di lakukan dalam dakwah itu ialah:

1. Meluruskan I'tiqod
            Banyak kepercayaan yang timbul dan lenyap sepanjang zaman. banyak kenya-kinan yang telah  dipegang kemudian diting-galkan orang. dan banyak fisafat yang digali dan dikembangkan, namun akhirnya lenyap di lupakan karena perkembangan pengetahuan.
            Banyak jalan yang boleh ditempuh, banyak cara yang boleh di lakukan, tetapi sendi-sendi iman atau rukun iman yang 6 tidak boleh kendor. pada zaman sekarang masih ada orang-orang yang kurang menya-kini akan kebesaran tuhan dengan alasan tuhan tidak tampak oleh mata. mereka mengi-nginkan tuhan untuk bisa dilihat,sehingga mereka mempertu-hankan bentuk-bentuk dengan harta kekayaan, sebagai kemauan hawa nafsunya. Allah menceritakan orang-orang yahudi yang yakin melihat tuhan
“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,” maka halilintar menyambar-mu, sedang kamu menyak-sikan.” (Q.S.Al-Baqoroh:55)

2. Meneruskan Amal
            Banyak orang yang tidak beramal, mungkin mereka belum mengetahui bahwa amal itu akan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. amal merupakan syarat untuk mendapatkan kebahagiaan, disamping iman.

3. Akhlaqul Karimah (membersihkan jiwa)
            Amal-amal lahiriyah yang sudah banyak dan manfaat itu banyak yang rusak disebabkan penyakit-penyakit kejiwaan seperti sombong, riya', sum'ah(popularitas), ujub (berbangga diri) dan sebagainya. islam menganjurkan agar orang-orang berakhlak mulia, sebagaimana yang dijelaskan oleh nabi kita Muhammad saw.

4. Mengukuhkan Kepribadian
            Islam mengajarkan agar kepribadian seseorang berpola agama, sehingga semua aktivitas hidupnya itu di warnai dengan nafas agama islam. memang islam tidak mengenal pemisahan antara urusan keagamaan dengan urusan keduniaan. demikian pernyataan Allah dalam Al-Qur'an:
“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguh-nya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam” (Al-An’Am:162)

5. Mengukuhkan Persaudaraan
            Islam mengajarkan persaudaraan, sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berseli-sih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujarat:10)
            semoga kita tergolong orang-orang yang tetap beriman dan beramal sholeh. bahagia di dunia maupun di akhirat. Amiin