Segitiga Karakter Individu
Posted by Unknown on 10:24 PM with No comments
Segitiga Karakter Individu
Oleh: Fahmi
Fardiansyah.
Pada surat Al-Fatihah
ayat terakhir banyak ditafsiri oleh ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan
an'amta alaihim adalah para Nabi-Nabi, para Mushoddiq (yang kuat tau-hidnya),
para Syahid, dan para orang-orang Sholih. Dan yang dimaksud almaghdlubi adalah
orang-orang Yahudi, serta yang dimak-sud dengan dlollin adalah orang-orang
Nashrani.
Namun, pemahaman yang
lebih men-dalam dari ayat ini adalah kembali pada diri masing-masing.
Dikarenakan setiap individu memiliki potensi untuk menjadi ketiga karak-ter
tersebut. Terkadang manusia bisa menjadi an'amta alaihim, terkadang
almaghdlubi, terkadang pula menjadi dlollin.
Sehingga pada ayat ini
dipahami manusia memiliki karakteristik pada dirinya yaitu, sifat yang dipuji
oleh Allah, sifat yang dibenci oleh Allah, dan sifat menyesatkan dirinya
sendiri. Dengan ketiga sifat ini manu-sia membentuk segitiga karakter yang
terka-dang pada satu sisi berada pada satu karakter dan berakhir dengan
karakter yang lain.
Pada saat manusia
berada dikarakter terpuji, manusia akan lebih mulia daripada Malaikat dan
makhluk Allah lainnya.
“dan Kami memulyakan mereka (manusia) ketimbang kabanyakan dari apa yang
telah kami ciptakan dengan keutamaan yang lebih” (Q.S al-Isra':70)
Dimulyakan manusia
sebagai makh-luk selain malaikat dengan keutamaan mele-bihi mereka dengan
diberikannya akal, keku atan, dan cara mengetahui mana yang haq dan
mana yang bathil, mana yang bagus dan mana yang jelek.
Akan tetapi, pada satu
sisi manusia juga berada dikarakter yang dibenci oleh Allah. Dengan beraninya
mereka menyekutukan Allah dengan makhluk lain, mengingkari utusan Allah,
melakukan perbuatan yang merugikan dirinya dan orang lain, berbuat sombong,
dusta, dendam, adu domba, fitnah, riya', mengurangi takaran dalam transaksi,
menipu, mencuri, membunuh, memperkosa, bermain riba, menyuap, menjual harga
diri manusia lainnya, menindas, merebut negara-negara kecil hanya untuk
melampiaskan nafsu belaka dan merebut kekayaan negara kecil tersebut, eksploitasi
besar-besaran, merusak alam, dan perbuatan keji lainnya. Itu disebab-kan oleh
karakter yang dimiliki manusia itu sendiri.
“maka, berkelilinglah kesepenjuru bumi dan perhatikan bagaimana (suatu
bencana, itu) ada dan mengenai orang-orang dusta (bersifat yang dibenci oleh
Allah).” (Q.S Ali Imran:137)
Namun, manusia juga
terkadang bersifat menyesatkan dirinya sendiri dengan mengangkat makhluk Allah
sebagai pelin-dungnya, berkeyakinan dengan ciptaan Allah-lah suatu bahaya
tersingkap tidak karena Allah, kenikmatan dunia yang dimiliki itu karena
tetesan keringatnya bukan kerena Allah, perusahaan yang dikembangkan adalah
hasil kerja keras bukan karena kuasa Allah, perdaga ngan yang sukses karena perhitungan yang tepat bukan karena ridlo Allah,
kepintaran yang dimiliki karena uasaha yang keras dalam belajar bukan karena
wahyu Allah, pangkat yang dimiliki adalah miliknya bukan titipan Allah, dapat
menyembuhkan orang sakit adalah karena belajarnya bertahun-tahun tentang
pengobatan bukan karena izin Allah.
Itu semua dikarenakan
mereka melampaui batas, tidak ingin mengakui kuasa Allah, malah mengakui
dirinya sendiri. Hanya ketika manusia terhimpit masalah yang sulit dihilangkan,
tertimpa bahaya, mengalami inflasi, jatuh miskin, bangkrut, banyak hutang,
bodoh, dan kurang segalanya baru mau mengakui akan kuasa Allah dalam segala
hal.
Oleh karenanya,
hendaklah kita menyadari akan karakteristik diri kita masing-masing apakah saat
ini kita bersifat an'amta alaihim atau almaghdub, atau dlollin?, jika masih
bersifat an'amta alaihim syukur, lantas apakah satu jam kedepan kita masih
bersifat seperti itu atau sudah berganti?, apakah esok hari kita masih bersifat
seperti itu?, apakah dalam hidup kita lebih banyak bersifat an'amta alaihim
atau malah kebalikannya?, hanya diri sendiri dan Allah yang menge-tahuinya.
Berhati-hati adalah kunci dalam mengola karakter diri.
Categories: BULETIN JUM'AT, LP3AH

0 comments:
Post a Comment