Islam: Rahmat Lil ‘Alamin
Posted by Unknown on 9:23 PM with No comments
Islam: Rahmat Lil ‘Alamin
Oleh: Anwar Mas’ady M.A.*
Dan tiadalah Kami
mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S.
al-Anbiya’, 21: 107)
Peristiwa baru-baru ini yang banyak menjadi perhatian hampir disemua media
di dunia adalah peristiwa “Paris Attack” atau penyerangan di Paris. Penyerangan
yang dilakukan oleh beberapa pria bersenjata disebuah tempat pertunjukan konser
di Bataclan dan pengeboman disekitar stadion Stade de France tempat berlaga
pertandingan antara Perancis vs Jerman. Laporan terakhir tentang penyerangan
tersebut telah menewaskan 153 orang dan yang terbanyak adalah ditempat konser
Bataclan seperti dilaporkan oleh Washingthon Pos.
Sehari pasca penyerangan tersebut, ISIS (Islamic State Iraq and Suriah)
diklaim sebagai aktor dari penyerangan tersebut. Entah ini sebagai klaim atau
diklaim karena dua kata tersebut merupakan hal yang berbeda. Keterlibatan ISIS
pertama kali disebutkan oleh Reuters sebuah kantor berita di London.
Pemberitaan dari Reuters ini bisa dikatakan sebagai pemberitaan yang sepihak
karena begitu cepatnya Reuters membuat kesimpulan yang kemudian banyak dikutip
media-media lain di dunia, bahkan menjadi berita utama bahwa ISIS adalah pihak
yang paling bertanggung jawab terhadap peristiwa tersebut.
Pemberitaan yang bersumber dari Reuters tersebut seakan-akan semakin
menjadi kuat dengan olah TKP dari keamanan Perancis yang menemukan paspor
kewarganegaraan dari Suriah berada di dekat tempat konser Bataclan.
Tanggapan-tangapan dari media sungguh luar biasa baik media online maupun media
sosial. Dua hal tersebut semakin menegaskan bahwa ISIS adalah otak dari
penyerangan tersebut tanpa menimbang atau mengklarifikasi. Diantara media tersebut
hal yang paling mengejutkan adalah adanya temuan paspor Suriah di dekat lokasi
penembakan, memang seakan-akan temuan paspor tersebut menjadi bukti yang kuat
terhadap keterlibatan ISIS dalam penyerangan tersebut. Media memang menjadi
alat propaganda yang sangat kuat dan sayangnya media-media di negara-negara Islam
ataupun yang mayoritas muslim mengamini media-media barat tersebut tanpa adanya
analisis yang benar.
Namun bagi media yang kritis mungkinkah para teroris tersebut begitu
mudahnya membawa identitas dalam aksi mereka, bukankah hal tersebut berarti
membuktikan kebodohan mereka dalam melakukan aksi? Ataukah berita tersebut
memang digunakan oleh pemerintah Perancis untuk menyudutkan kelompok ISIS? Yang
jelas penemuan paspor tersebut tidak saja menjadi berita yang laris di media
tetapi juga menjadi “meme” lucu di beberapa media sosial terhadap kecerobohan
dan kebodohan pemerintah Perancis. Tampaknya kekuatan Media barat masih
diandalkan untuk membentuk opini tertentu walaupun mendapatkan kritik sana dan
sini.
Terlepas dari peran media-media tersebut, efek yang sangat terasa secara
luas tidak hanya menimpa ISIS sebagai pihak yang paling disalahkan tetapi juga
adalah Islam sebagai agama yang dianut oleh para penyerang tersebut. Penyerangan
tersebut juga mempunyai efek bagi masyarakat Perancis dan bagi penganut agama Islam
di Perancis yang terus berkembang sebanyak 8 % atau mencapai 5 juta dari total
penduduk Perancis. Tekanan psikologis umat Islam di Perancis begitu luar biasa
karena simbol-simbol Islam begitu melekat dan mudah dikenali. Media-media barat
begitu membentuk opini psikologi yang sangat terasa, tidak hanya ISIS tetapi Islam
dan ajarannya adalah hal yang paling bertanggung jawab terhadap penyerangan
tersebut. Penyematan ISIS adalah teroris juga sebanding dengan Islam adalah
teroris, karena yang membentuk ISIS menjadi teroris adalah ajaran Islam, itulah
opini yang terbentuk dari media-media barat.
Islam Rahmatan Lil ‘Alamin
Kejadian penyerangan di Paris memang masih dalam penyelidikan, walaupun
media-media sudah begitu yakin bahwa ISIS adalah pelakunya. Sehingga seakan-akan dalam pemikiran
masyarakat, terutama masyarakat eropa, Islam adalah merupakan ajaran teror itu
sendiri dan Islam mengajarkan untuk membunuh lewat jihad.
Masih lekat dalam ingatan kita tentang film “fitna” yang dibuat oleh Arnoud Van Doorn, mantan politisi Belanda yang anti-Islam. Arnound Van Doorn adalah produk dari
gencarnya media barat yang menyudutkan Islam. Akibat dari media-media tersebut
kepala Arnound Van Doorn berisi memori bahwa Islam itu fanatik, menindas wanita, tidak
toleran, membabi buta memusuhi Barat sehingga inilah yang menjadi dasar dari
Arnound Van Doorn untuk membuat film terutama tafsirnya mengenai ayat jihad sebagai
legalisasi Islam terhadap terorisme.
Film yang dibuat oleh Arnound Van Doorn mendapatkan
reaksi yang keras dari umat Islam yang sangat tidak sepakat dengan tafsir Van
Doorn. Bagi umat Islam, ajaran Islam bukanlah seperti apa yang digambarkan oleh
Van Doorn, ajaran Islam adalah ajaran kemanusiaan, ajaran yang menghargai nyawa
manusia sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW. Kesalahan dan
ketidaktahuan Van Dorn ahirnya mengantarkan Van Doorn dan anaknya untuk masuk Islam.
Kembali pada reaksi umat Islam pasca film fitna
yang merupakan ketidaksepakatan umat Islam terhadap tafsir dalam film tersebut,
tetapi juga pemelintiran makna terhadap QS. Surat al-Anfal ayat 60 yang
memberikan kesan bahwa Islam memperbolehkan teror. Qurays Shihab lewat buku
“Ayat-ayat Fitna: Sekelumit Keadaban Islam ditengah Purbasangka meluruskan
tafsir-tafsir ayat yang digunakan dalam film tersebut. Tentu saja lagi-lagi
propaganda barat lewat film ataupun media tampaknya menjadi alat yang ampuh
untuk membentuk opini masyarakat.
Bantahan umat Islam dan Quraysh Shihab terhadap
film fitna dan keraguan umat Islam terhadap teror di Paris Perancis beberapa
hari yang lalu menandakan bahwa Islam bukanlah agama teror sebagaimana
opini-opini yang dibentuk oleh media-media barat. Islam adalah agama rahmatan
lil alamin (al-Anbiya’: 107). agama Islam sebagai rahmat (kasih sayang) bagi
seluruh alam sudah melekat dan memiliki keterkaitan dengan diutusnya nabi
Muhammad SAW sebagai rasul.
Kata Rahmat yang berarti kasih sayang, berikut derivasinya, disebut berulang-ulang dalam
jumlah yang begitu besar, lebih dari 90 ayat dalam al-Quran. Hal ini menandakan
begitu pentingnya kasih sayang dalam ajaran Islam. Bahkan dalam suatu hadits
yang shahih diriwatakan bahwa para sahabat mengusulkan kepada nabi Muhammad SAW
agar mendoakan keburukan bagi orang-orang musyrik, Nabi Muhammad SAW lalu
menjawab, “Aku diutus bukanlah sebagai pembawa kutukan, tetapi aku diutus
sebagai pembawa rahmat.” (HR. Muslim). Sungguh sempurna sifat nabi Muhammad
SAW seperti yang digambarkan dalam hadist di atas. Dari hadist di atas dapat
diambil kesimpulan bahwa Islam sebagai rahmat lil alamin tidak saja menjadi
rahmat bagi orang Islam saja, namun juga memberikan kasih sayang bagi semua
yang di alam.
Kisah Rasulullah dan Suraqah bin Malik adalah salah satu bukti bahwa
Rasululllah adalah teladan yang penuh kasih sayang. Beberapa kali Suraqah bin
Malik yang terbuai oleh hadiah yang dijanjikan oleh orang-orang Qurays bagi
yang mampu menangkap atau membunuh Rasulullah. Ketika kuda Suraqah bin Malik
hendak mencapai Rasulullah maka ia dan kudanya terjerembab dan jatuh, seketika
itu pula Rasulullah menolong dia. Kedua
kalinya Suraqah bin Malik berusaha untuk mengejar dan membunuh Rasulullah,
namun kudanya kembali terjerembab, kedua kali pula Rasulullah menolong Suraqah
bin Malik. pada momen yang ketiga Suraqah berhasil menghunus pedangnya
dihadapan Rasulullah sambil berkata” siapa yang akan menyelamatkamu dari
pedangku”?, Rasulullah menjawab “Allah yang akan menyelamatkanku”. Seketika itu
juga Suraqah gemetar dan jatuh pedangnya, lalu Rasulullah memungut pedang
Suraqah dan berkata, “siapa sekarang yang akan menyelamatkanmu?”. Suraqah pun
gemetar dan terdiam, Rasulullah lalu memaafkan perbuatan Suraqah yang menjadi
sebab dari keIslaman Suraqah.
Kisah yang lain adalah ketika futuhat di Suriah/Syam pada masa Umar bin
Khattab. Kisah ini saya ambil dari buku History of the Arabs karya Hitti. Futuhat
Islamiyah ke Syam digambarkan begitu luar biasa oleh Hitti karena sahabat Umar
bin Khattab melarang untuk membunuh kecuali yang sudah jelas sebagai musuh,
melarang untuk mendirikan tenda didalam kota Suriah karena dikhawatirkan akan
mengganggu aktifitas penduduk Suriah, melarang untuk menghancurkan gereja dan
menganggu ibadah orang-orang nasrani. Sikap sahabat umar ketika itu mendapat
simpati yang luar biasa karena futuhat ke Syam tidak menggambarkan ketakutan
penduduk Syam dari peperangan, tetapi memberikan pembebasan terhadap kekangan
agama dan paksaan budaya yang dilakukan oleh penguasa romawi. Bahkan ketika
pembukaan kunci dari kota Jerussalem dibukakan oleh Sophronius yang menemani
sahabat Umar bin Khattab, ia sangat terkejut dengan kesederhanaan dan busana
lusuh dan dikenakan tamu arabnya.
Kedua peristiwa Suraqah dan futuhat
di Suriah tentu memberikan gambaran kepada kita betapa luar biasa kasih sayang
Rasulullah dan sahabatnya Umar bin Khattab, Rasulullah adalah teladan yang
sangat luar biasa sebagai contoh utama rahmat bagi semesta alam yang juga
diikuti oleh sahabatnya Umar bin Khattab. Ajaran Islam begitu mulia sebagai
ajaran agama kasih sayang yang melarang pembunuhan yang tanpa sebab, bahkan
hukuman dari orang yang melakukan pembunuhan adalah dibunuh, hal itu dilakukan
untuk menghormati begitu mulianya jiwa manusia, kisah sahabat Umar bin Khattab
diatas kiranya merupakan bukti yang sangat shahih tentang memandang dan
menghormati lawan yang sudah kalah dalam peperangan.
Tasawuf sebagai Solusi
Sebagaimana disebutkan diatas bahwa agama Islam adalah agama yang penuh
kasih sayang. Kiranya ayat dalam surat al-‘Anbiya’ ayat 107 sudah memberikan
gambaran kepada kita bahwa tujuan diutusnya Rasulullah adalah rahmat/kasih
sayang bagi semesta alam. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari juga
dijelaskan bagaimana diutusnya Rasulullah "Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik."(HR. Bukhari). Dalam surat
al-‘Anbiya’ dan Hadist Nabi SAW diatas sudah sangat jelas sekali bahwa begitu
pentingnya ahlak dalam ajaran Islam, bahkan kedatangan Rasulullah adalah untuk
memberikan rahmat/kasih sayang dan untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Sehingga dapat dikatakan bahwa inti ajaran Islam dan jati diri seorang muslim
adalah ahlaknya sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi “Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya
adalah orang yang sempurna budi pekertinya. (HR. Tirmidzi).
Akhlak dan tasawuf berhubungan sangat erat, akhlak
adalah dasar dalam bertasawuf. Hubungan akhlak dan tasawuf tidak akan
dipisahkan karena kesucian hati akan membentuk akhlak yang mulia. Tasawuf
akhlaqi adalah mengajarkan bagaimana berperilaku yang baik karena ibadah sangat
berhubungan dengan Tuhan atau Allah juga berhubungan dengan akhlak manusia.
Ajaran tasawuf mengajarkan tidak saja berhubungan
dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan makhluk yang lainnya. Karena hubungan
yang baik dan ahklak dengan mahluk yang lainnya akan membawa kita pada hubungan
yang baik kepada Allah. Contoh dari kisah-kisah Rasulullah kisah yang menjadi
suri tauladan bagaimana kita berhubungan dengan manusia lainnya, bagimana
Rasulullah memaafkan Suraqah bin Malik dan bagaimana sahabat Umar sangat
menghargai nyawa manusia dengan tidak mengizinkan membunuh penduduk Suriah yang
sudah ditaklukkan, bahkan sahabat Umar melarang pasukan muslimin untuk membuat
tenda didalam kota Suriah.
Contoh ahklak yang demikian ini adalah merupakan
inti dari ajaran Islam dan tasawuf sebagaimana ajaran Islam. Islam dilarang
membunuh yang tanpa sebab, bahkan dianjurkan untuk memaafkan sebagaimana yang
diajarkan oleh Rasulullah dalam kisah Suraqah. Maka sangat tidak benar jika
ajaran Islam dikaitkan dengan terorisme karena ajaran Islam adalah ajaran
akhlak, seseorang tidak bisa dikatakan sempurna imannya jika tidak tidak
sempurna akhlaknya. Penyerangan di Paris Perancis jelas bukan bagian dari
ajaran Islam, karena Islam menolak pembunuhan yang tanpa sebab, Islam
menghargai jiwa manusia, Islam mengedepankan akhlak yang mulia dan kehadiran
Rasulullah yang mulia adalah untuk menyempurnakan ahlak, betapa mulianya ajaran
Islam.
Categories: BULETIN JUM'AT, LP3AH

0 comments:
Post a Comment