Hiasan Dunia
Posted by Unknown on 10:33 PM with No comments
Hiasan Dunia
Oleh: Fahmi Fardiansyah
“dijadikan indah pada (pandangan)
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah dan ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Q.S Ali
Imran (3) ayat 14).
Secara pandangan umum ayat ini
terlihat mengatakan bahwa dunia ini penuh akan kesenangan yang mengenakkan
pandangan, menyejukkan hati, dan terasa lezat jika dinikmati. Sehingga
mendorong manusia untuk melupakan akhirat serta surga sebagai sebaik-baik
tempat kembali. Itu jika dipandang dengan mafhum mukhalafah. Berbeda jika
dipandang dengan mafhum muwafaqah. Bahwa Allah telah memberikan dua anugrah
kepada manusia, yaitu manhaj hayah dan wasail hayah.
“tidakkah kamu perhatikan
sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit
dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (Q.S Luqman (31) ayat
20).
(Nikmat-Nya lahir dan bathin) yakni
manhaj hayah berupa pedoman hidup berupa al-Quran dan as-Sunnah, sedangkan
wasail hayah adalah segala sarana prasarana kehidupan yang diciptakan Allah
untuk kepentingan hidup manusia secara keseluruhan. Lantas apa saja sarana
prasarana tersebut? Tidak lain dan tidak bukan apa yang telah Allah terangkan
dalam (wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak,
kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah dan ladang.)
Lantas apa yang diharapkan oleh
Allah dalam menghadapi dunia ini? Adalah apa yang difirmankan Allah,
“supaya kamu jangan berduka cita
terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira
terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (Q.S al-Hadid (57) ayat 23).
Ketika dunia ada di tangan kita,
adalah harus saddar apa yang ada ditangan hanyalah sementara dan bersifat
titipan dan memiliki kewajiban untuk mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan
ketentuan-Nya.
dari Ibnu Umar dari Ibnu Mas'ud dari
Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam beliau bersabda: "Kaki Anak Adam
tidaklah bergeser pada hari Kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang
lima hal; tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa
dia pergunakan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan
dan tentang apa yang telah dia lakukan dengan ilmunya."
Sehingga Allah ingin mengatakan “apa
yang telah Aku hamparkan kepadamu itu maka manfaatkan dengan menyebut nama-Ku,
kemudia aku titipkan semua itu untuk kamu kelola dengan sebaik mungkin untuk
mewujudkan kemakmuran diantara kamu, jangan kamu tinggalkan dunia hanya karena
beralasan zuhud, tidak seperti itu yang disebut zuhud. Zuhud adalah mengambil
dunia atas apa yang telah Aku bagikan diantara kamu untuk kamu kelola dan kamu
manfaatkan untuk menciptakan kemakmuran sesuai pedoman yang telah Aku turunkan
sehingga terwujudlah keseimbangan dunia dan akhirat. Jangan tinggalkan dunia,
karena kamu akan bertanggung jawab akan apa yang ditangan kamu sekarang ini,
jangan tinggalkan dunia dengannya kamu bisa merasakan ketenangan dalam ibadah
dimasjid-masjid yang kamu bangun dengan megahnya, jangan tinggalkan dunia
dengannya kamu menciptakan sumber ilmu pengetahuan, pondok-pondok pesantren, sekolah-sekolah,
dan pernguruan tinggi, jangan tinggalkan dunia dengannya kamu membangun rumah
sakit yang menjadi rujukan umat Islam untuk berobat, jangan tinggalkan dunia
dengannya kamu menyantuni anak yatim, memberi makan orang miskin, menjamin
kehidupan para janda, jangan tinggalkan dunia dengannya Aku melipat gandakan
pahala bagimu. “
“perumpamaan (nafkah yang
dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah
serupa denga sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki .
dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S al-Baqarah
(2) ayat 261).
“hai orang-orang yang beriman,
belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan
kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan
tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang zalim.”
(Q.S al-Baqarah (2) ayat 254).
Ya Allah cukupkanlah dengan yang
halal dari pada yang haram, dengan ta’at pada-Mu dari pada maksiat pada-Mu,
dengan anugrah dari Mu bukan dari selain-Mu.
Categories: BULETIN JUM'AT, LP3AH

0 comments:
Post a Comment