Memelihara Ibadah
Posted by Unknown on 9:35 PM with No comments
Memelihara Ibadah
Oleh: KH. Muhammad Baidlowi Mushlich.
Dalam mengurus dan memperbaiki masalah keduniaan,
jangan sekali-kali kita melupakan perbaikan di dalam masalah ibadah kepada
Allah subhanahuwata'ala. Sebab tujuan pokok Allah menciptakan kita ini adalah
untuk ibadah.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku”. (Q.S adz-Dzariyat (51) ayat 56).
Namun sayangnya, banyak
manusia yang melupakan tujuan hidupnya ini, sehingga Allah selalu memberikan
peringatan.
“Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu
bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (Q.S adz-Dzariyat (51) ayat 55).
Sesungguhnya yang akan
menjadi bahan pertanyaan nanti di negeri akhirat adalah masalah ibadah. Sering
kita melihat orang yang berlebih-lebihan dalam mem-perbaiki urusan dunia, dan
sedikitpun tidak memperhatikan ibadahnya. Sebab dia menganggap bahwa ibadah itu
masalah kecil yang tidak mendatangkan keuntungan apa-apa bagi kepentingan
pribadi, masya-rakat, bangsa, dan negara. Tidak dapat men-jadikan orang biasa
menjadi kaya.
Ironisnya, kalau
anggapan ini datang dari seorang muslim adalah sangat keliru dan menyesatkan.
Islam mengajarkan agar urusan dunia ini diperbaiki akan tetapi jangan lupa
urusan akhiratnya terutama masalah ibadah. Nabi kita Muhammad
shallahualaihiwasalam dan para sahabatnya tidak ada yang men dari segi)
ekonomi, sosial, keamanan, dan sebagainya. Tetapi perkara ibadah itu mereka
jadikan nomer satu, perkara yang maha penting dan harus diutamakan.
Kalau mereka sedang
berperang, kemudian masuk waktu sholat maka terus mereka sholat. Kalau mereka
bekerja dan berjual beli, kemudian mendengar pang-gilan sholat jumaat maka
segeralah mereka datang menunaikan sholat jumaat. Mereka tidak menangguhkan
lebih-lebih mensia-siakan. Mereka menghayati benar firman Allah.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat
pada hari Jumat maka bersegeralah kalian untuk mengingat Allah dan
tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian
mengetahui”. (Q.S al-Jum'at (62) ayat 9).
Kalau orang Islam sudah
akil baligh (berakal dan mencapai usia mukallaf) maka ia bebani dengan urusan
ibadah, ia wajib bersuci sehabis buang air. Wajib berwudlu dikala hendak
sembahyang, wajib sembah-yang kalau sudah masuk waktu sholat, wajib puasa di
bulan Ramadlon, pergi haji jika ber-kesanggupan, wajib zakat kalau mampu, dan
lain-lain.
Di akhirat nanti kita
tidak akan ditanya, mengapa engkau tidak naik mobil?, tidka nail kapal
terbang?, tinggal di rumah susun?, memakai baju wol?, minum susu?, makan roti?,
dan sebagainya.
Tetapi sebaliknya orang
bisa disiksa kalau tidak bersuci, wudlunya tidak betul, tidak sembahyang, tidak
puasa, tidak zakat, dan sebagainya.
Pernah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasalam melewati satu kuburan dan disitu beliau mendengar
suara dua orang yang se-dang disiksa dalam kuburan, kemudian Nabi menerangkan
sebab-sebabnya ,
“Salah seorang di antara mereka disiksa karena suka mengadu-domba
sedangkan yang lainnya disiksa karena tidak memasang satir saat kencing”.
(hadits riwayat Bukhori dan Muslim).
Disamping itu, Nabi
pernah melihat seorang yang tidak benar mencuci tumitnya pada waktu berwudlu.
Lalu Nabi bersabda,
“Celakalah bagi tumit-tumit yang tidak basah akan masuk neraka”. (hadits
riwayat bukhori dan muslim).
Terhadap orang yang
tidak sembahyang, Allah SWT berfirman,
"Apakah yang memasukkan kalian ke dalam Saqar?", Mereka
menjawab, "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat”.
(Q.S al-Mudatsir (74) ayat 42-43).
Cukuplah beberapa
keterangan ini menjadi bukti bahwa perkara ibadah adalah perkara yang sangat
penting, tidak boleh disia-siakan. Oleh karenanya marilah kita jadikan sebagai
suatu kebutuhan dalam hidup ini. Kalau kebutuhan-kebutuhan lahir sudah
terpenuhi dengan berbagai fasilitas, maka kebutuhan bathin dan ruhani serta
kepentingan hidup di akhirat nanti kita penuhi dengan berbagai macam ibadah.
Marilah kita tingkatkan
ibadah-ibadah kita dari sekedar bernilai formal kepada nilai spritual, yaitu
dari sekedar memenuhi kewajiban menjalankan syarat dan rukun kepada tingkatan
khusyu' yang sangat bermakna.
Adapun aktualisasi
nilai-nilai ibadah itu dalam kehidupan sehari-hari adalah merupakan aplikasi
yang tidak lain merupakan hikmah-hikmah dari pada ibadah-ibadah itu.
Semoga Allah
subhanahuwata'ala memberikan kekuatan kepada kita dalam melaksanakan ibadah,
serta berkenan menerima semua ibadah kita itu, sehingga tercapailah tujuan
hidup bahagia kita di dunia maupun di akhirat. Allahummma amin.
Categories: BULETIN JUM'AT, LP3AH

0 comments:
Post a Comment